Selasa, 19 Maret 2013

Tuhan, Aku, dan Kamu

Oleh : Deviana Rachma Junisaf

“Kenapa kamu mau denganku?”
“Karena kamu spesial”
“Tapi, kenapa aku?”
“Maksud kamu?”
“Kita beda. Tuhanku dan Tuhanmu itu beda. Tapi kenapa kamu mau denganku? Masih banyak yang seiman, tapi kenapa aku? Kita beda”
“Apa dengan seiman bisa menjamin aku akan bahagia dan hidup penuh dengan cinta?”
“...”
Aku tersenyum, lega. Akhirnya kamu berhenti membicarakan sesuatu yang tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Agama. Agama adalah hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan. Masih banyak topik seru, tapi bukan agama salah satunya.

Aku sadar, kita berbeda. Tapi kita saling menyayangi. Kita sudah sepakat untuk menerima perbedaan yang ada dan bersedia untuk saling menghargainya. Apa yang salah? Aku tidak pernah berniat menyakitinya. Aku menyayanginya.

“Sayang..” Dengan sepelan pelannya suara, dia memanggil.
“Iya?”
“Kalau Tuhan kita berbeda terus, kamu masih sayang aku?”
“Masih”
“Sampai kapan?”
“Sampai waktu yang tidak pernah direncanakan”
“...”
Dia memelukku. Sangat erat. Hampir hampir aku sulit bernafas, tapi aku suka. Rasanya tidak ada hal yang paling membahagiakan selain dipeluk olehnya. Dan disaat seperti ini, aku ingat Tuhan. Ada nikmat yang tidak pernah aku syukuri sebelumnya. Nikmat diberikan orang orang yang aku sayang dan menyayangiku balik. Salah satunya dia.

Dia mengajakku duduk. Duduk disalah satu sofa yang ada dirumahku. Dia merangkulku, dan aku bersandar dipundaknya. Kami membicarakan tentang banyak hal. Mulai dari hal hal kecil hingga hal hal yang seharusnya tidak dibicarakan.

“Sayang..”
“Iya?”
“Kalau Tuhan manggil aku sekarang gimana?”
“Memangnya Tuhan menyuruhmu solat? Sejak kapan ibadah kamu tidak lagi di gereja?”
“Tidak, bukan itu yang aku maksud”
“Terus?”
“Kalau Tuhan memanggilku ‘Andara, kembalilah, semua tugas telah kau selesaikan"

Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, aku memotong. Aku tidak mau dia melanjutkannya. Dia selalu seperti itu. Membicarakan kematian. Memang benar, kematian pasti akan datang. Tapi tidak harus selalu dibahas, bukan?. Aku terus memaksanya untuk berhenti. Aku memaksanya untuk tahu kalau aku ttidak pernah siap untuk kehilangannya. Kehilangan seseorang yang menyayangiku.

“Lalu Tuhan bilang ‘Andara, siapa dia? Kenapa dia protes?’”
“Terus kamu jawab apa?” jawabku sedikit manja dengan muka yang murung.
“Tuhan, kenalkan, dia adalah orang yang selalu menyayangiku, disaat aku senang dan sedih. Dia, orang yang selalu membuatku tersenyum  kapanpun. Dan dia, yang mampu menerimaku, apa adanya”

Tersenyum dan memeluknya. hanya itu yang mampu menggantikan kata kata yang susah terucapkan.
“Eh, terus kamu tahu tidak Tuhan menjawab apa?”
“Apa?”
“’Yasudah, tidak jadi’”

Kami tertawa. Kami berhasil membunuh dan mengubur perasaan takut akan terpisah oleh agama hanya dengan tertawa. Dan sungguh, hanya tertawa bersamanyalah yang aku rasa mampu mengobati segala yang aku rasakan. Dan inilah yang membuatku selalu bersyukur. Bersyukur telah diberikan orang yang takut melihatku sedih, bahagia melihatku tertawa dan marah ketika ada yang menyakitiku. Terima kasih Tuhan.

***

Aku? Seperti ini..

Oleh : Firas Luthfi Dwiyansyah

Malam ini aku masih mampu membuka mata dan menulis sebuah cerita, yaitu sebuah perjalan hidup. Satu kata demi satu kata ku tuangkan dalam sebuah ketikan tangan sederhana, sesekali jariku berhenti sebab aku harus melayani beberapa pembeli yang singgah di kedai ayahku. Di tepi jalan, tempat dimana orang yang berkendaraan berlalu lalang, telah menjadi pandangan yang tak asing bagi ku. Ketika ia berhenti di depan kedai, dengan ramah aku melayaninya. Malam ini tak ada satu bintang pun ku lihat, angin malam yang dingin merasuk dalam setiap pori-pori kulit ku, hingga terasa dingin menembus sampai ketulang-tulang ku. Aku dengan seorang laki – laki separuh baya yang sedang duduk mengarah ke peralatan kerjanya. Matanya yang cekung, tulang pipi menonjol dengan pipinya yang kempis, dan aku pun memperhatikan kedua tulang tangan nya yang berisi  sedang bekerja, membetulkan handphone. Kami menjual pulsa, asesoris handphone dan membetulkan berbagai handphone.       

 Malam ini aku bekerja dengan menjaga dagangan dan menanti kehadiran pembeli untuk membetulkan handphonenya dan menghabiskan barang-barang yang ku dagang. Setiap hari ini ku jalani, bergantian dengan ayahku jika aku hendak bersekolah. Sepanjang hari kedai ini di buka, dari pagi kesiang, sore, lalu kemalam hingga pagi nya lagi dan berulang-ulang terus menerus kedai ini tetap terbuka. Di tempat ini aku banyak mendapat kan pelajaran hidup. Aku bersama dengan pedagang lainnya, orang-orang pendistribusi barang dagang, penjaga malam, dan orang-orang sekitar kedai ayahku. Nama nya juga aku berjaga kedai di tepi jalan, tempat umum, tempat banyak orang berlalu lalang. Ini lah tempat kami mencari nafkah untuk hidup. Aku adalah laki – laki yang dibesarkan oleh seorang ayah yang tampan dan sangat hebat. Aku hanya tinggal bersama ayah dan satu adik tiri ku. Mungkin kalian bertanya "Ibu....?". Aku tak lagi tinggal bersama ibu karena ayah dan ibu ku sudah bercerai sejak aku masih berumur 9 tahun.

Awalnya aku tinggal bersama ibu, kakak, dan adik ku, namun setelah aku lulus dari jenjang SMP, aku memutuskan untuk ikut dengan ayah ku karena aku merasa kasihan dengan ibu ku yang sudah rela banting tulang membiayai kita semua sebagai anak. Mungkin dengan aku ikut ayah, nantinya ibu bisa agak ringan lagi karena ibu hanya tinggal membiayai kakak dan adik ku saja.
  
Kembali lagi ke ayah, jadi aku dengan ayah hanya tinggal bertiga. Aku hidup dengan tangan seorang laki - laki yang kuat yang bisa menggantikan tugas ibuku. Aku harus mengakui bahwa aku adalah korban broken home. Rumah tangga yang gagal dibina. Aku tak malu mengakui ini, karena ini adalah kenyataan hidup yang tak dapat ku sembunyikan dari orang-orang yang tahu benar tentang hidup ku. Aku tak perduli bagaimana orang beranggapan tentang broken home. Bagi ku ini semua adalah perjalanan hidup. Mana ada orang yang mau hidup dengan tekanan batin akibat rusaknya hubungan yang terjalin di dalam rumah tangga, tapi ini adalah sebuah pilihan. Aku tak dapat mencegah keputusan orang tua ku, karena ini adalah keputusan mereka. Mungkin dengan hidup seperti ini ada hal yang lebih indah dan penuh makna yang di sembunyikan Nya, menurut ku seperti itu. Menjadi anak broken home bukan suatu yang hina bagi ku, setiap orang mempunyai perjalanan hidup masing-masing, dan ini adalah hidup yang telah ditulis Nya. 

Aku masih dapat hidup bersama keluarga kecil ku, walau kadang tak dapat ku pungkiri bahwa aku sangat merindukan kehangatan sebuah keluarga, dan kebersamaan dengan keluarga, namun, saat aku mulai merasakan lemah itu, aku melihat aku masih punya ayah yang kuat, aku punya adik yang menjadi motivasi ku untuk hidup tegar seperti ayah ku tercinta, aku segera bangkit dan tidak ingin terlarut dalam kelemahan karena jika aku merasa lemah yang mendalam, maka aku akan terjatuh, sekali aku terjatuh, aku akan tertinggal. Maka untuk tidak menjadi seperti itu, aku lekas menepis dan bangkit dari jeritan-jeritan lemah itu. Aku ingat betul kata-kata ini adalah kata-kata yang menjadi motivasi ku. Kata-kata yang tak pernah ku lupakan yang di sampai kan dari seorang polisi yang pernah singgah di kedai ku saat aku berdagang. 

           Banyak pelajaran yang dapat ku ambil dari orang-orang di sekitar yang kutemui pada tiap hari-hari ku. Dari penjaga malam dan bapak-bapak sekitar kedai ayahku misalnya, aku sudah ramah dan akrab dengan mereka. Aku sering bercanda gurau untuk tetap ceria dengan canda tawa mereka. Ini sangat menyenangkan bagi ku. Aku jadi merasa tak sendiri, aku memiliki banyak orang-orang yang menjadi inspirasi bagi ku. mereka selalu singgah dan menjadi pelanggan, untuk sekedar membeli asesoris handphone, pulsa ataupun membetulkan handphone di kedai ku. Mereka terkadang menemani aku bahkan menjaga ku dari berjaga kedai pada malam hari. Dengan mereka, mendengar cerita mereka, semangat mereka dalam menjalani hidup, dan tak jarang mereka selalu memberikan nasihat baik untuk ku.
          

  Aku tak terlalu ambil pusing kepada orang-orang yang menilai buruk atas ku, ada orang yang menganggap aku seperti laki - laki tak baik karna aku masih harus menjaga kedai hingga tengah malam. Itu semua ku alihkan karena kuat ku untuk hidup ku, tak banyak yang tahu tentang apa yang sebenar nya ku cari dan untuk apa aku jalani hidup seperti ini. Selagi aku masih berjalan dalam jalur yang benar, aku siap hadapi dan menjalani hidup ini. Aku sudah terbiasa hidup dengan orang-orang sederhana. Mereka tak akan membuat gentar perjalanan ku, karena hanya aku yang mengendalikan hidup ku, dan hanya aku yang mengerti akan menjadi apa aku nanti.  Bagi ku seorang motivator tidak hanya berasal dari orang-orang sukses saja. Atau Orang-orang hebat yaitu orang-orang yang memiliki nama besar belaka. Namun penting untuk diketahui dan dipahami bahwa kami yang berasal dari kehidupan sederhana masih dapat merakit motivasi besar dan dorongan yang kuat untuk meraih semua impian hidup ini.
        Aku tak ingin hidup hanya dalam lingkaran kedai ini, aku punya impian, cita-cita yang akan aku raih untuk kedua orang tua ku, terutama ibu ku yang telah membesarkanku sejak kecil, kakak, dan adik – adik ku. Maka dari itu aku belajar dari semua pengalaman yang aku dapatkan.

        Hari ini aku menulis cerita hidup ku, aku menulis tidak untuk menunjukan rasa haru. Harapan ku cerita sederhana ini memberikan inspirasi yang besar untuk semua yang membaca. Esok aku harus melanjutkan pelajaran ku, visi-visi ku, untuk kedua orang tua ku nanti agar dapat tertidur nyenyak dimalam hari seperti orang tua – otang tua yang lain, saat bermimpi indah dan beristirahat di atas kasur nya. Saat ini aku dan ayah ku hanya berpegang pada komitmen yang kami rakit bersama. Dia mencari nafkah untuk menghidupi anak-anak nya, dan aku sebagai anak ditugaskan untuk melanjutkan hidup dengan menimba seluas-luas nya ilmu sebagai bekalku, agar aku dapat mencapai cita-cita dan memutuskan rantai kemiskinan dengan pendidikan setinggi-tingginya.

        Untuk mencicipi kebahagiaan harus pernah merasakan sakit-sakitan. Berani menghampiri bayangan ketakutan, karena jika kita berhasil menakhlukan bayangan tersebut, itulah keberhasilan yang sesungguh nya. Tidak ada orang yang baru di lahir kan langsung sukses. Semua penuh dengan lika-liku hidup yang bagaimana ia berhasil memilah jalan hidup nya.

        "Jangan pernah takut untuk mengejar impian jika hanya karena kamu miskin, sebab Tuhan telah mengatur jalan kamu. Pelajarilah apa yang telah di ajarkan Nya dari perjalan hidupmu yang tidak akan pernah menjadi sia-sia. "

***

Tuman

Oleh : Inggit Budyaning Mutya

Pagi yang cerah, seperti biasa Jono bergegas mandi setelah memberi makan kucing-kucingnya...  kini ia siap untuk berangkat di sekolah.

“Buuuu aku berangkat ya...!” sambil nge-gas motornya
‘iya nak... semangat ya! Hati-hati jangan ngebut ngebut!
Itu yang selalu di pesan oleh ibunya

Ngakunya sih, cowok yang satu ini nggak akan kalah ataupun di kalahin sama yang namanya jalanan, dia hobi banget ngebut-ngebut di jalan, menurutnya sih enak. Dia selalu cerita sama temen-temenya kalo jalan nggak ngebut itu nggak rame.

*disekolah*
“Hai brooo.... Pagi.....”
“Ehh hari ini ada tugas apa? Ada ulangan nggak? Atau mungkin quis?”

Setiap pagi semua temennya di cecer pertannyaan begitu, maklum saja jono ga pernah peduli sama PR atau pun tugas. dia lebih suka ngerjain itu di sekolah, karena di rumahnya dia selalu sibuk buat kumpul-kumpul sama temen trek-trekannya.

“Eh.. ntar kalian pada mo ikut ngetrek bareng gw ga?”
“ngapain? Mendingan belajar buat UN!”
“yah... Lu mah nggak gaul.... selow sih UN doang!!. Ngetrek itu sreu tauuu...”
“ati-ati aja jon, UN bentar lagi lho... Jangan ngetrek dulu deh mendingan!’’
“hmmm..... iye dahh” (meremehkan)

“Tenonennonennonenonetttttt”
Jam pulang sekolah pun berbunyi, seperti biasa jono dan teman di sekolahnya selalu kebut-kebutan kalau pulang kerumah. Tapi kali ini jono menyempatkan diri untuk singgah ke SPBU, sehingga ia tertinggal oleh rombongan.

“sial gw di tinggalin.. harus gw susulin nih!”
Dengan semangat yang megnggebu... ditancaplah gas sekuat-kuatnya, dan kini motornya melaju dengan sangat kencang. Ya kini ia sudah dapat melihat rombongannya di depan,
Tapi........

“gubrakkkkkkkk................”
“adawww,,,,, sakittttt”
Ia terjatuh dari motornya, temannya tidak ada yang tau, karena mereka sudah melaju lebih dulu. Jatuh di tikungan karena menabrak sebuah truk tronton, truknya sih nggak papa, tapi si jono bonyok parah..... lalu ia pulang kerumah dan bertemu ibunya.
“asalamualaikum... bu Jono pulang”
“waalaikum salam, Ya ampun nak.... koe ngopo?”
“Tibo bu”
“wes tak kandani, alon alon, ojo kesusu......” ibunya terus berceloteh

Jono hanya bisa terdiam, mendengar kata kata orang tuanya, dia termenung membayangkan kondisinya saat ini, ia takut tidak bisa mengikuti UN yang tinggal hitungan hari. Kini ia sadar betapa meruginya ia selama ini.. kini ia menjadi lebih berhati-hati dalam berkendara.

-          alon-alon asal kelakon    - 

***

Gang Sembilan

Oleh : Marchia Kalyanitta

Kalian tahu daerah Gang Sembilan  di daerah Jakarta Pusat yang sedang naik pamornya karena digosipkan banyak cerita mistis dari warga sekitar? Ya, awalnya aku tak percaya hingga suatu sore…
Begini ceritanya,

Jumat, 22 September 2011
“Ta? Lo tahu pgang yang ada di daerah Kemang itu?”
“Ha? Yang dimana? Emang lo kira gang di Kemang Cuma satu?!” Jawabku ketus
“Duhhh!!! Itu looooh gang yang sering terjadi kasus kecelakaan atau apalah gitu”
“Ooh iya kalau itu sih gue tau. Kenapa?”
“Itu kan mistis banget katanya”
“Gang Sembilan kan? Ah gue sering tuh lewat situ. Kenapa sih emangnya?” aku mengulang kembali pertanyaanku.
“Iya… gitu deh katanya dua hari yang lalu ada kecelekaan lagi didepan gangnya, mati Ta!!!” Kata Yolan begitu semangat menceritakan tragedi itu
“Oh… ya itu sih takdir” jawabku masih stay cool
“Ah lo kok kayaknya no sense  sih sama cerita horror gitu! Kenapa? Gak percaya?” Tanya Yolan terheran-heran
“Ya… gak gitu Lan, tapi gue sih percaya sama Tuhan jadi slow” jawabku masih dengan nada yang amat sangat santai.
“Hih! Yaudah deh, oh iya Ta nanti ada rapat OSIS dulu ya ngumpul jam 3”
“Sip” Jawabku singkat. Ya ya memang kalau diingat-ingat gang Sembilan itu selalu horror. Entahlah selama ini tapi aku belum merasakan apa-apa.
Hingga Sore itu….
“Oke jadi kegiatan kita besok mengurus segala keperluan pemilihan ketua OSIS dan kru-krunya ya!”
“Ta? Udah mau maghrib, lo masih berani lewat gang Sembilan? Pencahayaannya kan kurang Ta” Tanya Maya.
“Iya May, gak apa-apa kok” walau sebenarnya aku juga agak takut

Beneran deh kata Maya, pencahayaannya kurang banget! Mana sepi lagi ah! Tau gitu aku pesan taksi saja lewat jalan lebar.

“srrrreeekkk” bunyi suara disekitar tempat sampah membuatku tersentak kaget. Lalu seketika aku mencium bau wangi yang sangat mencekam. Seperti mawar dan melati… Ah apalah!

Aku berlari sekencang yang aku bisa menuju ke ujung gang dan tanpa berpikir panjang segera meloncati portal setinggi setengah meter lebih. Aku terjatuh dan aku terus berlari tak memperdulikan lalu lintas yang malam itu untungnya agak sepi. Aku berlari hingga aku tak melihat gang yang gelap itu lagi.

“Assalamualaikum…” ucapku sambil membuka pintu ruang utama sambil tersendat-sendat nafasku.
“wa alaikum salam… masyaallah! Nak! Kamu kenapa? Kok lecet-lecet begitu kamu? Berantem sama siapa? Habis di kejar sama anjing Pak Bayat?” teriak Ibu histeris
“enggak kok bu, aku habis kesandung portal tadi pas lewat gang” jawabku menahan perih
“kok bisa? Kamu lari?” Tanya ibu sambil berlari menuju dapur mengambil kotak P3K dan duduk disampingku
“Iya bu, aku takut…” jawabku malu-malu
“Tumben? Kok kamu gak naik taksi aja kalau gitu. Bahaya loh”
“Iya bu… tadi aku mau sok berani … uji nyali gitu deh”
“Loh? Emang kenapa?” Tanya Ibu heran.
“Loh? Emang Ibu belum tahu ya?” jawabku lebih heran.
“gang Sembilan kan katanya gang mistis gitu didaerah kemang, bu”
“Ah biasa saja” jawab Ibu masih tidak percaya.
“Bu… masa tadi aku denger suara-suara gitu terus kecium bau melati sama mawar gitu, bu…” jawabku sambil memeluk Ibu.
“Suara apa, sayang?” Tanya Ibu sambil mengelus rambutku
“Suara disekitar tempat sampah besar itu”
“Lah ya wong di gang Sembilan banyak kucingnya. Lagi nyari makan kali mereka disitu atau ngejar tikus atau malahan itu tikus lagi kejar-kejaran” jawab Ibu sambil tertawa.
“Terus? Ibu bisa jelasin gak kenapa disitu ada bau mawar sama melati? Padahal di gang gak ada tanaman mawar atau melati sama sekali” Tanyaku memburu tak sabaran.
“Oh kalau itu sih karena…”
“Karena apa bu? Jawab dong bu…” aku paling gak suka kalau ada orang yang cerita Cuma setengah-setengah
“Bener nih mau tau? Nanti kamu gak mau lewat gang itu lagi?” Jawab Ibu yang semakin saja membuatku penasaran.
“Iya bu… Ada apa memang? Setannya? Jawab bu…” sambil merengek akhirnya Ibu menceritakan.
“Hush! Kamu tuh korban film banget sih Ta! Bukan, ini sama sekali gak ada hubungannya sama setan, kuntilanak, genderuwo, pocong, atau apalah”
“Terus kenapa dong bu? Tanyaku makin penasaran.
“Lah masa sih kamu gak tau? Dibelakang gang Sembilan kan ada Pabrik Sabun baru, Ta… limbah sabunnya itu sebagian masuk ke dalam parit-parit disekitar gang Sembilan” Jawab Ibu santai
“Tapi kok aku belum pernah menciumnya?” Tanyaku masih penasaran.
“Ya karena kamu selama ini kamu lewat gang pas pulangnya kurang dari jam empat melulu. Air limbahnya dibuang setiap jam lima keatas, sayang” jawab Ibu sambil masih mengelus rambutku
“Jadi bukan karena hal mistis?”
“Ya bukan… itu sih emang dasarnya aja kamu penakut” Goda Ibu
Hehe aku jadi malu sendiri, sambil berusaha berdiri untuk mandi akhirnya aku beranjak dari sofa dan mencium Ibuku
“Ibu emang paling bisa balikin mood aku lagi deh! Makasih bu”
“Iya sayang, kembali kasih”

Malam itu mungkin malam pertama dan semoga terakhirku mendapatkan kejadian mistis yang sangat amat konyol.

***

Pencuri Hati

Oleh : Muhammad Rizal Syifauddin

Bel istirahat telah berbunyi, menandakan siswa-siswi yang sedang kelaparan menyerbu kantin untuk mengisi cacing-cacing yang terus berteriak. Percakapan antara dua sahabat, sayup-sayup terdengar.
“Makannya  jadi cowok itu yang maco dikit kenapa sih, Rik? liat sendirikan kalo loe masih kaya gini terus, mana ada cewek yang naksir sama loe!” ucap  Siska dengan nada menyindir
“Biarin! loe siapa gue ngatur-ngatur? Bokap, Nyokap gue aja kagak sewot. Loe aja yang berlebihan. Udahlah males gue kalo ngomongin masalah ini. Gue mau dapet cewek yang baik-baik. Gak kayak cewek sekarang yang mudah takluk sama cowok yang modal tampang.“  Sahutku sinis
Riko pun segera berlalu meninggalkan Siska, ia sengaja meninggalkan sahabatnya itu di kantin. Riko dapat membayangkan bagaimana ekspresi Siska yang sangat kesal dan marah. Ingin sekali Riko tertawa, tapi ia memilih untuk menahannya. ‘gak lucu banget kalo gue sampe ketawa, gue kan lagi kesel!’ ucapnya dalam hati.
Riko Dewanto, itulah namanya. Dia berteman lama dengan Siska. Persahabatan mereka terjalin dari kecil, dan kebetulan Riko satu sekolah dengan Siska. Sayangnya Riko tidak satu kelas dengan Siska, sahabatnya.
***
  Sore harinya.
“Fad, bantu gue yah? Please. Gue mau dalam minggu ini, gue punya pacar. Gue mau tunjukin sama si Siska jelek, kalo gue ini cowok sejati yang bisa membuat para cewek kelepek-kelepek karena ketampanan gue” ucap Riko pada Fadli, temannya
“What? Are you serious? loe mau punya cewek? Katanya yang diliat cewek sekarang cuma tampang doang? Lah, loe kan tampang pas-pasan mana bisa cewek takluk sama loe. Hahaha..” ucap Fadli bergurau
“Sialan.. tampang gue bukan pas-pasan, tapi unik. Langka nih, tampang kaya gue. Kalo bukan karna si Siska jelek, gue gak bakalan mau punya cewek dulu. Gue sakit hati Fad, harkat dan martabat gue sebagai cowok terinjak-injak. Gue mau buktiin ke Siska jelek kalo gue bisa punya cewek” balas Riko berapi-api
“Oke-oke Rik, gue percaya sama loe. Sebagai temen yang baik dan juga tampan tentunya, gue bakal bantuin loe” canda Fadli.
 “Oke!! Thank’s, Fad. Loe emang temen gue yang baik, itupun kadang-kadang dan yang pasti loe gak tampan.”
“Sialan loe, jangan meragukan ketampanan gue. Buktinya gue udah punya cewek. Sedangkan loe? Hahah.. Iya sama-sama. Rik, sedikit saran aja nih. Mending loe lepas deh kacamata kuda loe, baju loe juga jangan kuno gini. Ubah penampilan loe, ya.. biar modis dikitlah.” ucap Fadli.
  Riko memikirkan perkataan Fadli. Merubah penampilan? Mungkin ada benarnya ucapan Fadli, Riko terlalu ‘kuno’. Mana ada cewek yang tertarik sama cowok yang ketinggalan zaman? ucap Riko dalam hati.
 Dan sejak saat itulah Riko ingin merubah penampilannya menjadi lebih tampan. Setelah Riko merubah penampilannya. Dia mematut dirinya di depan cermin seraya berujar ‘Loe semakin tampan Riko Dewanto’.
***
  Esok harinya di sekolah. Riko berubah menjadi pangeran dadakan. Banyak sekali cewek yang mengeluh-eluhkan namanya. Setiap ia berjalan, selalu saja ada cewek-cewek yang memanggil namanya sekedar untuk menyapa dan memberikan senyum termanis miliknya. Hal itu berlangsung hingga hari ini, hari kesepuluhnya. Riko mulai jenuh dengan perubahan yang terjadi pada dirinya. Semenjak ia berubah menjadi pangeran tampan, hubungan pertemanannya dengan Siska merenggang.
“Bukan perubahan ini yang gue mau. Perubahan yang merubah hubungan pertemanan kita.” gumam Riko pada dirinya sendiri. Riko merasa sangat kehilangan sahabat yang selama ini di sisinya.
“Gue harus merubahnya. Yaa.. harus.” tekad Riko. Ia berencana untuk menemui Siska di sekolah untuk mengungkapkan perasaan kehilangannya pada Siska.
***
Kantin sekolah sangatlah sunyi, sudah sepuluh menit berlalu Riko dan Siska pun terdiam membisu. Hanya keheningan diantara keduanya.
“Rik, katanya loe mau ngomong? Apaan? Bentar lagi masuk nih!” ucap Siska memecahkan keheningan yang terjadi
“Sis, akhir-akhir ini kok loe ngejauh dari gue?” tanya Riko to the point
“Loe kan lagi tebar pesona sama cewek-cewek satu sekolah. Masa iya gue ganggu” balas Siska ketus
“Tapi, gue gak suka Sis. Gue gak butuh cewek-cewek genit itu. Gue butuh loe, Cuma loe yang gue butuhin. Gue sayang loe Sis, loe mau jadi pacar gue?” tanya Riko lagi.
 Siska sangat terkejut mendengar pertanyaan, atau mungkin lebih tepatnya pernyataan cinta Riko. Siska sangat bingung, apa yang harus ia jawab.
“Loe sahabat gue rik. Tapi, loe adalah sahabat yang mencuri hati gue. Gue mau jadi pacar loe, Riko Dewanto.” ucap Siska dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

***

Dia Merubah Segalanya


Oleh : Nadya Saraswati

Nama gw Angel Karina, gue biasa dipanggil Karin. Gue baru memasuki sekolah menengah akhir (SMA).Gue  bersyukur banget karna sekarang gue sudah menduduki bangku SMA “yeeeyyy !!!”..  Kalau kata orang sih SMA itu masa-masa paling indah gitu deh :D. Gue sekarang lagi mengikuti Mabis ( Masa Bimbingan siswa). Mabis itu hal yang paling gue sebel, tau gk knpa ?karna, kita tuh Cuma ngabisin waktu untuk hal yang gk penting, apalagi sama kakak kelas yang sok sok an ngerjain kita gitu deh, iyuuwh !!.

Selama mabis gue gak pernah ikut mabis, justru gue malah enak-enakan pergi shopping samanyokap gue. Gue itu termasuk anak yang cuek dan pemalas, tpi kalau yang namanya cowok, gue bukan pemalas bnget hahaha.Gue itu termasuk bisa dikatakan playgirls, karna gue bisa setiap minggu ganti-ganti cowok.Dalam melakukan hubungan gue gak pernah serius seperti temen-temen gue yang sampe 1 atau 2 tahun berpacaran.

Oh iya gue lupa, gue itu punya sahabat karib, namanya Mona, Laras, Vanesa, dan Michel. Kami sudah bersahabat sejak menduduki bangku sekolah menengah pertama (SMP). Kita berlima itu memiliki sifat yang sama, tapi ada satu anak yang beda, Laras, dia memiliki sifat yang agak lemot gitu, tapi gue tetep sayang sama dia.

Suatu ketika kita sedang berkumpul di kantin, “eh guys, gak kerasa ya sekarang kita udah SMA” kata gue, “iya nih, cepet banget yah” saut Vanesa, tiba-tiba dengan polosnya Laras berkata “emang kita udah SMAya ?bukannya masih SMP ?” seketika suasana menjadi hening, “laraaaaaaassssssssss”, teriakan Mona, Vanesa, Michel, dan gue. Laraspun berkata “kenapa?emang gue salah ya temen-temen?”. Kita pun pergi dan meninggalkan Laras.
Kita melanjutkan pembicaraan kita di dalam kelas. Anak-anak itu semuanya pada takut sama gue, jadi gue kayak Ratu di sekolahan itu. “eh Rin, gimana kabar loe sama cowok loe?” kata Michel, “udah putus gue sama dia, udah bosen, sekarang gue udah punya cowok lagi dong” kata Karin. Mona pun ikut berbicara “gila loe, udah ganti cowok aja, kayak ganti baju aja loe hahah”, “gak papa kali, ngapain kita pacaran pake hati, ujung-ujungnya sakit hati hahah”. “eh dari pada ribut, mendingan pulang sekolah kita ke moll yuk, gue lagi dikasih ATM nih sama bokap” kata Vanesa. “wah bagus itu, tapi kalau sekarang gue aja yang traktir kalian semua, ok”, saut gue.

Teeeeeeeeeeeeetttt!!!... suara bel pulang sekolahpun berbunyi, gue dan temen-temen gue bergegas pergi ke moll. Sesampainya di moll kita pun tak melewatkan hal yg penting, yaitu pergi shopping. sedangkan temen-temen lagi belanja, gue pun muter-muter mencari barang sendiri, tiba-tiba dijalan gue ngeliat cowok bisa dikatakan ganteng dan tajir. Kalau dibilang matre sih, gue emang matre hehehe, munafik kalau cewek itu gak matre. Waktu gue udah depan-depanan sama si diague pura-pura jatuh, “aduhhh, aduuh gimana sih kalau jalan, liat-liat doing” dengan muka sok melas, “sory sory, lo gak papakan ?sini biar gue bantu untuk berdiri” “iyaa gue gak papa kok”, “oh iya nama lo siapa ?”, kata si cowok, “nama gue Karin,” “oh ywdh gue lagi buru-buru nih, ini ada kartu nama gue, kalau ada apa-apa hubungin gue aja ya”, kata si cowok. Ternyata dia anak dari pengusaha kaya, lumayan dong hahaha.Setelah selesai belanja, kita pun segera pulang.

Keesokan harinya disekolah.Seperti biasa kita pun berkumpul kembali. “eh,eh gue kemaren ketemu cowokloh, ganteng banget, tajir pula’’ kata gue “srius lo?”, kata Mona, “iya gue sekarang lagi pdkt loh sama dia” “trus cowok lo mau kemanain?” kata Vanesa. “putuslah, lagian gue udah bosen hehehe” “gila lo yah, haahah”, kata Michel. Teeeettttt… bel masuk sekolah pun sudah berbunyi.

Saat istirahat Laras bercerita kalau disekolah ini kedatangan murid baru, dan ternyata murid itu sekelas sama gue. Murid baru itu bernama Tio, dia pindahan dari Yogyakarta.Gue liat orangnya sih biasa aja. Tiba-tiba Laras berkata “eh lo bisa dapetin dia gk ?kalau bisa gue acungin jempol deh”, “enggklah gue gak mau”, kata gue sambil mengalihkan muka, “ayolah Cuma buat iseng-iseng aja”, kata Mona, “oke kalau gitu, siapa takut”, kata gue dengan muka yakin “oke inget yah jangan sampe pake hati haha”kata Vanesa.

Bel sekolah berbunyi, saatnya kita semua untuk pulang.Waktu gue dijalan mau pulang,dijalan ada Tio yang sedang berjalan, karna mungkin rumahnya tidak jauh dari sekolahan.Gue pun mencoba untuk menyapa, padahal sih pengennya gak mau “hey, Tio yah ?’’, “iyah,” kata tio , “ lo anak barukan ? oh iya kenalin nama gue Karin”.

Semenjak itulah gue jadi dekat dengan tio, gue sering berbincang-bincang dengannya, padahal sih di hati gue itu ogah deh, dia bukan termasuk kriteria cowok yang gue mau, oke dia ganteng sih tapi gayanya itu loh biasa-biasa aja.

Satu bulan sudah berlalu, tapi Tio pun belum juga nembak gue. Eh ternyata kebalikannya, Tio nembak gue dengan romantisnya, tapi gue gk boleh suka sama dia. Gue masih inget sama taruhan gue sama temen gue. Tapi kenapa yah perasaan gue jadi aneh kayak gini, enggk seperti biasanya.

Setibanya dirumah gue, ternyata sahabat-sahabat gue ada dikamar gue, dan mereka menanyakan kabar gue dengan Tio. “eh kalian, ngapain loe loe pada disini?’’ kata gue “kita Cuma mau mastiin aja kalau loe bener-bener gak suka sama Tio” kata Vanesa “hahahah iyalah, mana mau gue sama dia, jadi kalian tenang aja, bentar lagi jug a gue putusin, oh iya ntar malem gue mau jalan sama tio”.

Malam pun tiba, gue dan tio pertama kalinya ngedate. Gue gak nyangka banget, gue kira dia bakalan ngajak gue kerestoran atau moll, ternyata dia ngajak gue ketempat makanan pinggiran, yang sama sekali gue belum pernah nyobain selama ini. “syang, kita ngapain ya disini ?’’ “ya makanlah Karin, kenapa ? gak suka yah ?’’ kata tio “hmm enggk kok, tapi gak salah nih ditempat beginian” “iyahh, lagian makanannya enak kok” tio menjawab. Akhirnya gue pun makan ditempat pinggiran itu, tapi ternyata gak seburuk yang gue kira, makanan itu enak dan murah, dari pada di restoran.

Hati gue merasa beda banget kalau di dekat Tio, biasanya kalau gue lgi deket sama cowok, hati gue biasa-biasa aja, tapi kali ini gue merasa beda. Apa mungkin gue beneran jatuh cinta sama dia, apa bener gue sekarang lagi jatuh cinta ?.gue bingung, gue gak boleh jatuh cinta, gue harus tepatin janji gue ketemen-temen gue.

Berjalannya waktu gue sama tio berpacaran, gue ngerasa ada yang beda sama diri gue, gue ngerasa gue lebih bahagia. “hey Karin, hari ini kamu cantik deh, aku bersyukur punya pacar secantik kamu” kata tio “ ah, kamu ini bisa aja deh yo” “Karin, gue sayang sama lo”. Semenjak perkataan itu keluar dari mulut tio hati gue ngerasa kalau gue emang bener-bener suka sama dia.

Tiba-tiba hp gue berdering, waktu gue liat ternyata Mona sahabat gue memanggil “hallo, mon ada apa ?kata gue, “hmmm menurut gue sekarang hari yang tepat deh untuk lo mutusin dia” tiba-tiba teleponpun terputus. Disitu gue bingung, disitu gue sedih apa yang harus gue lakuin, rasanya berat banget untuk mutusin dia.

Setibanya disekolah, hari ini gue menghindar dari tio, gue gak mau ketemu sama dia, tapi dia selalu mengejar gue untuk menanyakan kenapa, “Karin, Karin kamu kenapa menghindar dari aku ?” kata tio, “aku gak kenapa-kenapa kok(sambil terus berjalan)” “kalau emang gak kenapa-kenapa, terus kenapa kamu mesti menghindar dari aku ? aku salah yah, yaudah aku minta maaf”, “ udah deh mulai sekarang kamu enggk usah ganggu aku lagi, mulai sekarang kita PUTUS” , “putus ? kenapa ?aku salah apa ?”. gue pun langsung pergi ke kelas gue, gue beneran gak kuat banget. Hati gue sakit, berat untuk mengucapkan hal itu.Gue bingung kenapa gue seperti ini, gak seperti biasanya. Tiba-tiba sahabat-sahabat gue dating kekelas dan bertanya “ hey Karin, loe nangis ?, jangan bilang lo nangis karna lo putusin Tio yah ?” kata Vanesa, “hah? Nangis ?enggk ahh, gue Cuma kelilipan doang kok”, “kelilipan? Gak salah tuh? Jangan-jangan lo beneran suka yah sama dia ?lo gak inget sama perjanjian kita itu?’’.

Hari pun cepat berlalu, hari-hari tanpa dia, gak ada lagi kata-kata syang, gak ada lagi tawa dan canda dia, gak ada lagi yang bikin gue nyaman.Ternyata gue baru sadar sekarang, dia berbeda dengan yang lainnya, dia udah mengajarkan gue tentang banyak hal. Gue sekarang tau rasanya makan dipinggiran itu lebih enak, gue tau sekarang apa itu yang namanya cinta sesungguhnya, cinta sesungguhnya yaitu cinta yang mengerti kita, menerima kita dalam keadaan apapun, merubah menjadi lebih baik. Sekarang gue gak tau Tio benci sama gue atau enggk. Tapi gue gak mau bohongin perasaan gue sendiri, gue harus perjuangin cinta gue, gue harus yakin sama perasaan gue sendiri, kalau dia emang yang terbaik buat gue. Akhirnya gue pergi mencari dia. Gue cari kerumahnya tapi dia ttep tidk ada, tapi gue tau ada satu tempat yang slalu dia datangin.Gue pun bergegas pergi kesana. Sesampainya disana, “Tio, gue tau gue salah, gue tau udah bikin lo sakit, gue mau minta maaf sama lo yo”, “gue tau sekarang, gue tau kenapa lo mau pacaran sama gue, ternyata lo taruhankan sama temen lo itu, pantesan gue bingung ada cwe cantik mau sama gue”, “iyaahh gue tauu yo, waktu itu gue taruhan sama sahabat gue, tapi seiiringnya waktu, persaan gue ke elo itu beda, gue ngerasa beda kalau lagi disamping lo, gue syang sama lo yo, gue dapet pelajaran berharga dari lo yo, banyak banget”, 

Percakapan antara gue dan tio cukup panjang, disitu gue meyakini tio kalau gue benar-benar berubah. Bener-bener syang sama dia. Akhirnya kita pun balikan lagi. Keesokan harinya disekolah gue didatengin sahabat-sahabat gue, dan mereka berkata “Karin, lo balikan sama tio ? lo gk tepatin janji lo itu” kata Michel, “guys, kali ini gue gak bisa bohongin persaan gue sendiri, gue bener-bener sayang sama dia, dan itu semua tulus dari hati gue yang paling dalam, dan kalian harus tau, dia udah merubah semuanya, karna dia, gue mengerti arti sesungguhnya cinta”, “uuhhh..so sweet” saut Vanesa, Mona, Michel, dan Laras. “maafin gue ya guys” (dengan muka sedih)”, “iyah gpp kok kalau lo emang beneran sayang sama Tio, kita setuju aja kok, kita malah seneng kalau sahabat kita udah berubah hahah” kata laras, “jadi kalian gak marah?” “ngapain marah ?” . ternayat sahabat gue menyetujui hubungan gue sama dia.

Akhirnya, semenjak hal itu gue lebih mengerti arti sesunggunya kasih syang. Dan ternyata cinta itu lebih indah jika kita itu saling mencintai satu sama lain.

***

Dosa Terindah

Oleh : Niles Cholifiyah Sudrajat

Sudah berjam-jam Nana menatap dinding langit di kamarnya yang remang-remang sambil tersenyum mengenang saat ia bertemu dengan Deviana Aditya untuk pertama kalinya. Ketika itu ia sedang menyusuri lorong yang berada di sekolahnya seorang diri. Kemudian ia melihat ada lelaki yang datang dari ujung lorong dengan sedikit berlari dan nampaknya buru-buru. Lelaki itu membawa bola basket di tangannya. Ketika mereka berpapasan, Lelaki itu sedikit menyenggol bahu Nana hingga Nana terkejut dan hampir membuatnya terbentur tembok.
‘Aduh selow dong lo’ Ucap Nana sedikit ketus.
‘Eeeh sorry, sorry, gue buru-buru’ Balas lelaki itu.
‘Iya gapapa. Lain kali hati-hati’ Jawab Nana dengan sedikit kesal.

Nana tak pernah tahu kalau lelaki yang sempat membuatnya kesal itu bisa membuatnya selalu teringat-ingat akan sosoknya. Hingga akhirnya Nana mengetahui namanya, kelasnya, alamat rumahnya hingga SD tempat Devi berasal. Nana pun tahu kalau Deviana Aditya itu tidak suka dipanggil Devi. Tetapi ia lebih suka dipanggil Adit. Hingga suatu hari, sekolahnya mengadakan pendaftaran untuk ekstra kulikuler. Dan semua siswa termasuk Nana harus mengikutinya. Pada kesempatan itu juga, Nana dipertemukan kembali dengan Adit. Dan tanpa Nana sangka, Adit menyapa Nana.

‘Oy? Lo yang di lorong itu bukan?’
‘Ha? Oh iya yang waktu itu’ Jawab Nana
‘Sorry banget ya yang waktu itu, gue ga sengaja’ Ujar Adit
‘Oh, iya sih gapapa, nyelow aja’ Balas Nana dengan nada santai.
‘Oya by the way nama lo siapa?’ Tanya Adit tiba-tiba
‘Gue?’ Tanya Nana heran. Untuk apa Adit bertanya siapa namanya? Atau mungkin karena Adit merasa tidak enak pada Nana karena kejadian di lorong itu pikirnya.
‘Iyalah elo, siapa lagi’ Balas Adit
‘Gue Fitri Nana, lo?’ Nana balik bertanya siapa namanya. Walaupun sebenarnya ia sudah tahu siapa namanya.
‘Gue Adit. Oya lo ikut ekskul apa?’ Tanya Adit lagi
‘Basket dong’ Ucap Nana bangga
‘Widih sama dong, daftar bareng aja yuk’ Ajak Adit pada Nana
‘Boleh deh’ Jawab Nana tanpa ragu. Sejak saat itu, mereka mulai berteman. Mereka juga sering pulang bersama dan latihan basket bersama hingga mereka semakin dekat. Bisa dibilang, mereka bersahabat. Seiring kedekatannya dengan Adit, Nana merasa ada yang lain yang ia rasakan. Bukan perasaan dari ‘teman’ pada ‘teman’, namun perasaan dari ‘wanita’ pada ‘pria’, atau dengan kata lain, Nana menyukai Adit.

Suatu hari, Nisa, teman dekat Nana bertanya pada Nana dengan wajah penasaran.
‘Na? Lo jadian sama Adit?’
‘Hah? Apaan? Kaga. Kata siapa? Darimana?’ Tanya Nana tak percaya
‘Tuh anak basket pada bilang gitu’ Jawab Nisa santai
‘Is engga Nis. Gossip aja mereka mah’ Ucap Nana pada Nisa, membela dirinya.

Sebenarnya, Nana sangat menginginkan kabar burung itu menjadi nyata. Namun kabar burung yang Nana harapkan akan terjadi harus ia pendam dalam-dalam. Karena ternyata Adit sudah punya kekasih, namanya Haura Nada Lyta, anak luar sekolah. Betapa kecewanya Nana mendengar kabar itu. Namun Nana tetap berusaha bersikap seperti biasa saat ia belum mengetahui kabar itu. Hingga akhirnya tanpa pernah Nana duga, Adit mengungkapkan perasaannya pada Nana.
‘Na, gue pengen lo tau, selama ini gue suka sama lo. Lo mau jadi cewe gue?’
‘Hah? Serius lo? Terus Nada gimana?’ Tanya Nana panik
‘Lo tau soal Nada? Itu urusan terakhir, yang penting lo mau apa ga?’ Tanya Adit sedikit mendesak Nana

Sebagai perempuan normal, tentu Nana akan merasa sangat senang apabila lelaki yang selama ini ia idam-idamkan mempunyai perasaan yang sama dengannya. Terlebih jika bisa menjadi kekasihnya. Tanpa pikir panjang, Nana menjawab ‘iya deh, gue mau’.

Hari-hari yang Nana lalui sekarang terasa lebih indah sejak Adit menjadi kekasihnya. Hampir dua bulan mereka berpacaran, menikmati kisah-kisah indah mereka. Namun kebahagiaan ini tak lama Nana rasakan. Semua pupus karena sosok Nada yang begitu penting untuk Adit. Ketika itu Nana dan Adit sedang berbincang-bincang, tiba-tiba ponsel Adit berbunyi. Entah dari siapa, Adit terlihat sangat gugup dan tegang ketika berbicara dengan lawan bicaranya itu. Ketika Adit kembali, Nana bertanya
‘Siapa Dit?’
‘Nada masuk rumah sakit Na’ Jawab Adit
‘Terus? Apa hubungannya sama lo? Udah putus kan?’ Tanya Nana bingung
‘Belum Na’ Jawab Adit enteng
‘Kok gitu? Kenapa?’ Tanya Nana dengan nada yang sedikit tinggi
‘Karna gue sayang kalian berdua, gue butuh lo yang selalu ada di samping gue Na’ Jawab Adit jelas

Setelah Adit menceritakan kondisi Nada, Nana mengerti bahwa Nada lebih membutuhkan seorang Adit. Nana memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Adit. Nana menyesal, karena ia telah menerima cinta Adit. Mengapa tidak sejak awal ia tolak semua ini. Setelah Nana merasa nyaman dengan sosok Adit sebagai kekasih, kini Nana harus melupakan perasaannya pada Adit dan kembali menganggap Adit sebagai sahabatnya. Memang hal yang sulit bagi Nana. Namun rasa bersalahnya pada Nada mengalahkan semuanya. Nana merasa berdosa karena telah menjadi parasit dalam hubungan mereka. Mungkin ini adalah dosa terindah yang pernah Nana perbuat selama hidupnya. Nana mengalah demi kebaikan Nada. Nana sadar, keputusan dia untuk menerima cinta Adit adalah sebuah kesalahan. Menerima cinta seseorang yang sudah memiliki kekasih. Sebuah kesalahan yang tidak akan pernah lagi terulang dalam kehidupan Nana. Cukup dengan Adit dan Nada Nana merasakan semuanya. 

***